JAMBI – H. Fahrizal, wakil rakyat dari Komisi III DPRD Tanjung Jabung Barat yang seharusnya menjadi garda terdepan pengawasan pembangunan, memilih bungkam seribu bahasa. Sikap ini muncul di tengah sorotan tajam terhadap proyek Puskesmas Merlung yang diduga kuat dikerjakan asal jadi, mengindikasikan adanya praktik korupsi yang merugikan masyarakat.
Kejanggalan paling mencolok adalah dugaan pengecoran lantai yang dilakukan tanpa menggunakan besi tikar atau behel. Praktik ini bukan hanya melanggar spesifikasi teknis, tetapi juga mengancam keselamatan pasien dan tenaga medis. Lantai yang seharusnya kokoh dan tahan lama, berpotensi ambrol dan membahayakan nyawa.
Ketidakpedulian H. Fahrizal semakin memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Mengapa seorang wakil rakyat yang diberi amanah untuk mengawasi pembangunan justru memilih diam saat proyek bermasalah? Apakah ada kepentingan pribadi atau kelompok yang lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat?
Masyarakat Tanjung Jabung Barat menuntut transparansi dan akuntabilitas dalam proyek ini. Jangan biarkan uang rakyat dikorupsi, dan keselamatan masyarakat dipertaruhkan.
Puskesmas Merlung seharusnya menjadi simbol pelayanan kesehatan yang berkualitas, bukan monumen kegagalan pengawasan dan praktik korupsi yang merajalela. Jika H. Fahrizal dan pihak-pihak terkait terus bungkam, maka kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif dan pemerintah daerah akan semakin terkikis.











