Kabarseputarjambi.id – JAMBI – Provinsi Jambi kembali mengalami pemadaman listrik massal atau blackout pada Jumat malam (22/5/2026) sekitar pukul 18.40 WIB. Hampir seluruh wilayah dilaporkan gelap gulita akibat gangguan sistem kelistrikan yang berdampak luas terhadap aktivitas masyarakat.
Peristiwa ini kembali memunculkan gelombang kritik terhadap PLN, terutama terkait ketahanan infrastruktur dan pola penanganan gangguan yang dinilai terus berulang.
Di tengah padamnya aliran listrik, beredar sejumlah informasi dan infografis yang menyebut gangguan terjadi pada sistem transmisi serta gardu induk di jaringan Sumatera. Gangguan tersebut diduga memicu efek berantai terhadap pasokan listrik di sejumlah provinsi, termasuk Jambi.
Dalam pemberitahuan yang beredar, pihak PLN kembali menyampaikan permintaan maaf kepada pelanggan dan menyebut tim teknis sedang melakukan percepatan pemulihan sistem. Gangguan disebut terjadi pada sisi transmisi 150 kV maupun pembangkitan.
Namun bagi masyarakat, permintaan maaf semata dinilai tidak lagi cukup.
Pemadaman massal tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas rumah tangga, layanan publik, jaringan komunikasi, hingga operasional pelaku usaha kecil dan menengah. Sejumlah warga mengaku aktivitas mereka lumpuh akibat ketergantungan tinggi terhadap listrik di era digital saat ini.
“Kalau kita telat bayar, garangnya bukan main. Listrik langsung mati. Coba kalau mereka yang bermasalah, cuma minta maaf,” ujar seorang warga Kota Jambi.
Sorotan publik kini bukan hanya tertuju pada gangguan teknis, tetapi juga transparansi informasi dari PLN mengenai penyebab utama blackout serta langkah konkret untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Masyarakat menilai penjelasan yang diberikan selama ini cenderung berhenti pada istilah “gangguan sistem” tanpa uraian detail yang mudah dipahami publik. Kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa pelanggan hanya diminta memaklumi situasi, tanpa kepastian adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem kelistrikan.
Padahal, kebutuhan listrik di Jambi terus meningkat dan telah menjadi penopang utama berbagai sektor, mulai dari UMKM, layanan kesehatan, pendidikan, perkantoran, hingga aktivitas ekonomi digital masyarakat.
Blackout massal yang kembali terjadi ini dinilai menjadi alarm serius bagi pemerintah dan PLN untuk memperkuat sistem distribusi dan transmisi listrik di wilayah Sumatera, khususnya di Jambi.
Publik kini menunggu langkah nyata berupa audit menyeluruh terhadap infrastruktur kelistrikan, transparansi hasil investigasi gangguan, serta jaminan bahwa pemadaman massal tidak terus menjadi siklus berulang yang merugikan masyarakat.
Sebab bagi warga, yang dibutuhkan bukan sekadar kalimat “mohon maaf atas ketidaknyamanan”, melainkan kepastian bahwa pasokan listrik tetap stabil dan andal di tengah tingginya kebutuhan energi masyarakat modern. (TIKO)










