Polisi Selidiki Kebakaran di Kuala Tungkal, Lima Bangunan Rusak Berat Media Koran Tekad Gelar Gathering, LSM dan Insan Pers Jambi Perkuat Kebersamaan Diduga Angkut Kayu Tanpa Dokumen, Sopir Sebut Ada Pengawalan Oknum Anggota Polda Aktif Pria Ditemukan Meninggal Dunia di Perumahan Permata Berlian Kuala Tungkal, Polisi Lakukan Penanganan MUSDALUB F.SPTI-K.SPSI Jambi Jadi Sorotan! Sekda Sudirman dan Ketua Pusat Hadir, Konsolidasi Organisasi Diperkuat

Home / Daerah / Seputar Jambi / Tanjab Barat

Sabtu, 28 Februari 2026 - 10:15 WIB

Sentuhan PHE Jambi Merang Ubah Singkong Jadi Sumber Harapan

Musi Banyuasin, 27 Februari 2026 – Menjelang azan Magrib, dapur-dapur di Desa Simpang Bayat yang berada di sekitar wilayah operasi PHE Jambi Merang mulai sibuk. Aroma cendol dawet yang manis bercampur dengan aroma cuko yang mendampingi hidangan pempek. Tak banyak yang tahu, sebagian sajian berbuka itu kini dibuat dari tepung mocaf—tepung berbahan dasar singkong yang diolah sendiri oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi.

 

KWT Embun Pagi merupakan kelompok binaan PHE Jambi Merang yang berada di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Penduduknya sangat akrab dengan singkong yang ditanam di lahan kebun maupun pekarang rumah. “Panen singkong di sini banyak. Tapi ya gitu, harga singkong per kilonya murah sekali. Cuma dua ribu per kilo,” ungkap Riyanti, 45, salah satu anggota KWT Embun Pagi. Jika hanya mengandalkan panen singkong, menurutnya tidak cukup untuk kebutuhan hidup.

 

Ia mengakui perubahan mulai terasa setelah kelompoknya mendapatkan pendampingan dari PHE Jambi Merang dalam pengembangan produk mocaf. Produksi yang sebelumnya telah berjalan, diperkuat dari sisi kualitas, standarisasi proses, hingga kemasan dan pemasaran. Melalui proses fermentasi, pengeringan, dan penggilingan yang lebih terstruktur, singkong kini diolah menjadi produk dengan nilai tambah yang lebih optimal.

 

“Awalnya kami ragu, apakah rasanya bisa sama seperti terigu. Ternyata enak, malah lebih ringan,” kata Riyanti sambil menunjukkan kemasan mocaf produksi kelompoknya yang kini sudah berlabel. Satu kilo tepung mocaf dibanderol Rp 34.000,-, berkali-kali lipat dibanding hanya menjual singkong utuh saja. Produk sampingan selain mocaf, KWT Embun Pagi juga membuat eyek-eyek. Itu adalah kudapan ringan dari singkong yang renyah.

BERITA TERKAIT  Hingga Batas Akhir, Hanya Satu Kandidat Daftar Ketum Perpani Jambi, TPP Tegaskan Proses Tetap Sesuai Aturan

 

Riyanti juga bersyukur PHE Jambi Merang selain melatih pemasaran juga aktif mempromosikan tepung mocaf ini. PHE Jambi Merang memang kerap mengusung tepung mocaf dari Desa Simpang Bayat ini di berbagai pameran kabupaten maupun provinsi, misalnya saja Sriwijaya Expo di Palembang. Riyanti yakin dengan promosi itu, paling tidak masyarakat mengenal tepung mocaf dan manfaatnya.

 

Di bulan Ramadan, konsumsi makanan berbasis tepung meningkat. Tepung mocaf bisa menjadi alternatifnya. Tepung mocaf pada dasarnya merupakan sumber karbohidrat seperti halnya terigu, namun memiliki keunggulan karena bebas gluten dan cenderung lebih mudah dicerna bagi sebagian orang. Ketika berpuasa, makanan yang mudah dicerna menjadi penting agar lambung yang kosong seharian tidak “terkejut” oleh asupan yang terlalu berat.

 

Untuk takjil, olahan mocaf dapat dijadikan bakwan dan pisang goreng yang renyah. Untuk sajian berbuka, mocaf diolah menjadi brownies kukus, bolu pandan, dan kue lapis. Bahkan untuk persiapan Lebaran, tepung ini dipakai membuat nastar, kastengel, dan putri salju yang tak kalah lembut dari tepung terigu.

 

Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 Iwan Ridwan Faizal mengatakan bahwa mocaf dapat membantu mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbasis gandum impor. Bagi warga, ini berarti rantai produksi yang lebih dekat, biaya yang lebih terkendali, serta membuka peluang nilai ekonomi baru bagi masyarakat desa.

 

“Program pemberdayaan masyarakat dirancang agar bergulir memberikan manfaat langsung terhadap kelompok dan secara tidak langsung berkelanjutan berdampak ke ekonomi masyarakat. Program ini memberi kesempatan bagi para ibu rumah tangga untuk lebih berdaya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Sementara bagi masyarakat, ini menjadi simbol kemandirian pangan lokal,” jelasnya.

BERITA TERKAIT  Ancam Polisi dengan Badik di Jalan Lintas WKS, Seorang Pria di Tebing Tinggi Diringkus Polsek Tebing Tinggi

 

Di bulan yang mengajarkan makna berbagi dan keberkahan, kenyalnya cendol dan gurihnya pempek dari mocaf menjadi saksi bahwa kemandirian bisa tumbuh dari potensi lokal. Dari singkong yang dulu dipandang biasa, kini hadir mocaf yang tak hanya menguatkan sajian Ramadan, tetapi juga menguatkan ekonomi keluarga.

Share :

Baca Juga

Batanghari

Upaya Penguatan Ketahanan Pangan, Pemkab Batang Hari Usulkan Bantuan Benih Padi dan Jagung

Daerah

Diduga Kuat Pengolahan Batu Ilegal Milik Muhsin di Tungkal Ulu, Aparat Diduga Tutup Mata

Daerah

Babinsa Koramil 415-08/Danau Teluk Pantau Kegiatan Pembagian Sembako

Daerah

Ditresnarkoba Polda Jambi Berhasil Amankan 4Kg Sabu dan 19.895 ribu Pil Ekstasi senilai 10 Miliar Lebih, Sebagai Hadiah HUT Bhayangkara ke 78

Seputar Jambi

Bhabinkamtibmas Polsek Tembesi Menyalurkan Bantuan Sosial di Bulan Suci Ramadhan

Batanghari

Bupati Fadhil bersama Ketua TP – PKK Batanghari Kunjungi RSUD HAMBA Muarabulian

Batanghari

Avanza Dan Truk Fuso Terlibat Kecelakaan DI Mersam Batanghari, Begini Kronologinya

Batanghari

Wakil Bupati Bakhtiar Hadiri Pelantikan DPD Tani Merdeka Indonesia Kabupaten Batang Hari